Married Life #1

Bagi sebagian besar orang menikah menjadi salah satu esensi dari kehidupan itu sendiri, namun menjadikannya sebuah tujuan aku rasa kurang tepat karena sejatinya menikah justru menjadi gerbang awal dimulainya kehidupan yang sebenar-benarnya. Bagi para Generasi 90-an berbahagialah karena saat ini kalian (termasuk saya) telah berevolusi menjadi manusia kategori dewasa. Pertanyaan “Kapan lulus? Udah Kerja di mana?” beralih menjadi “kapan nikah ? kapan punya anak?”. Tapi yang terpenting adalah menikahlah karena kesiapan lahiriah dan batiniah, bukan karena trend teman-teman di sekitar apalagi karena merasa terintimidasi oleh pertanyaan-pertanyaan orang sekitar.

Di usia 25 tahunku saat ini, Alhamdulillah aku sudah menjalani pernikahan beberapa bulan lamanya dan melalui tulisan ini aku akan sedikit bercerita mengenai berbagai macam hal-hal mengejutkan setelah menikah berdasarkan pengalaman (ahhaha) :D.

  1. Kenikmatan yang Hakiki, Menikah itu kenikmatan yang hakiki, kenapa ? karena sekecil apapun hal yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang itu bermakna ibadah di mata Allah SWT. Yang ngerasa pacaran itu enak, percayalah nikah itu  jauh lebih enak daripada pacaran. Aku sendiri merasakan pacaran selama hampir 5 tahun (dengan 4 tahun menjalani LDR) sampai akhirnya mantap untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Kalau jaman pacaran dulu banyak hal yang nggak bisa dilakukan karena bertentangan dengan Norma Agama, Kesusilaan dan Sosial contohnya berduaan di tempat umum atau berfoto dengan gaya yang terlalu dekat. Tentunya setelah menikah hal itu menjadi bebas dilakukan. Tapi yang paling nikmat adalah ketika kita bisa sama-sama mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Bagiku kenikmatan itu adalah ketika aku bisa sholat berjamaah dengan suami dan mencium tangannya sebagai seorang istri, mengaminkan setiap doa yang dia panjatkan, dan tadarus bersama. Mengapa nikmat ? karena meskipun Sholat adalah aktifitas yang baik dan berpahala namun apabila dilakukan berdua saja dengan pacar/yang bukan mahramnya maka menjadikannya perbuatan dosa. Rela masak pagi buta demi bekal suami kerja dan senantiasa menyambutnya dengan penuh suka cita sepulang kerja juga menjadi sebuah kenikmatan tersendiri. Pokoknya nikah itu bikin nyesal. Nyesal kenapa nggak dari dulu hahaha.
  1. Adaptasi dan Pembelajaran Seumur Hidup, Menikah itu merupakan proses adaptasi yang dilakukan seumur hidup. Dari yang sebelumnya masih sendiri terbiasa membuat suatu keputusan sendiri untuk diri sendiri, setelah menikah segala sesuatu harus meminta pertimbangan pada suami/istri. Setelah menikah kita dihadapkan pada kondisi yang serba berbeda, orang tua kita sekarang ada dua pasang, keluarga besar semakin banyak, perbedaan kebiasaan dengan pasangan, karena percayalah selama apapun usia pacaran atau saling mengenal yang telah kita lalui, kita akan tetap terkaget-kaget dengan semua kebiasaan-kebiasaan pasangan kita yang baru akan kita ketahui setelah menikah. Banyak sekali perbedaan kebiasaan dan prinsip yang akan berbenturan mulai dari hal kecil hingga yang besar sekalipun. Setelah menikah belum berapa lama kemudian sang istri hamil, akan banyak lagi hal-hal yang dirasakan dan adaptasi singkat yang harus dihadapai, 9 bulan lamanya kemudian pasangan suami istri berubah status menjadi orang tua yang akan kembali dihadapkan pada dunia parenting yang harus segera disesuaikan. Dan masih banyak lagi kondisi dan cara menghadapinya yang akan dipelajari sampai usia kita tidak lagi muda.
  1. Perbedaan Sudut Pandang, Percaya atau tidak, penelitian ilmiah membuktikan bahwa otak laki-laki dan perempuan itu memiliki komponen yang berbeda. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan pola pikir dan kebiasaan antara pria dan wanita. Ukuran otak wanita lebih besar dari otak pria, hal ini menyebabkan wanita memiliki kemampuan multitasking, sedangkan pria hanya mampu berkonsentrasi pada satu hal dalam satu waktu. Tidak hanya itu adanya perbedaan fokus konsentrasi antara pria dan wanita juga sering menjadi salah satu sumber kesalahpahaman. Oleh karena itu, aku pribadi menyarankan kepada teman-teman yang akan atau sudah menikah untuk membaca satu buku yang menurut aku bagus banget karena mengulas berbagai macam masalag psikologi dalam berumah tangga yaitu “Psikologi Suami Istri karya DR. Thariq Kamal An-Nu’aimi”.
  1. Tim yang Sinergis, Menikah itu seru, menuntut kita menjadi tim yang sinergis dalam banyak hal, mulai dari mengurus pekerjaan rumah tangga, musyawarah dalam menentukan suatu keputusan besar atau menentukan menu masakan, semua membutuhkan kerjasama, saling menguatkan ketika salah satu dalam kondisi tidak baik, saling menjaga, memahami dan melengkapi. Hidup berumah tangga membutuhkan kekompakan, tidak ada yang menjadi inferior karena kedudukan suami dan istri itu sederajat dalam hal pemikiran.

Akhir kata menikah itu hal yang menyenangkan. Membahagiakan, dan menenangkan. Menikah itu penuh keberkahan, banyak hal yang akan menghadang di depan tapi dengan kekuatan cinta dan kasih sayang serta kekompakan diantara pasangan, maka semuanya pasti akan terasa lebih mudah. Terlebih jika kita memiliki pasangan yang  luar biasa sabar, pengertian dan selalu mensupport kita untuk menjadi lebih sukses dan berkembang, seperti yang aku rasakan saat ini :D.

Advertisements

2 thoughts on “Married Life #1

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: