Married Life #2 (Perbedaan Budaya)

 

Keberagaman Indonesia sudah menjadi ciri khas bangsa, keanekaragaman suku, budaya, bahasa dan agama mempengaruhi seluruh sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Dalam satu suku sekalipun seringkali masih terdapat berbagai macam pembagian yang berimplikasi pada perbedaan tradisi atau kebiasaan.

Luas banget ya pembahasan di atas, padahal cuma mau cerita tentang penikahan beda suku dan budaya, yang tentunya masih satu bangsa yaitu Indonesia. Kenapa aku angkat tema ini, karena ini merupakan pengalaman pribadiku saat ini. Hehe !

Pada era globalisasi ini, pernikahan beda budaya dan bangsa sudah menjadi hal yang biasa, kalau beda agama beda lagi ceritanya (saya menganut aliran yang memilih untuk tidak membahas hal-hal semacam ini karena menyangkut hubungan pribadi seseorang dengan Tuhannya).  Berbeda dengan jaman kakek nenek kita dulu yang masih banyak kepercayaan dan atas nama melestarikan tradisi mau tidak mau menikah dengan pilihan orang tua yang notabene masih satu suku atau bahkan satu keluarga. Maka tidak jarang masih banyak ditemui desa-desa yang seluruh penduduknya dari yang tua sampai balita masih merupakan satu keluarga (contohnya di Desa Banjaran, Grabag, Magelang – Lokasi KKN dulu).

Menikah dengan pasangan yang memiliki perbedaan suku dan budaya dengan kita tentu gampang-gampang susah. Gampang kalau ternyata kita memiliki pemikiran yang sejalan dengan pasangan, namun tetap harus diingat bahwa sejatinya menikah itu adalah proses menyatukan dua keluarga. It means, kita juga harus “menikah” dengan budaya, tradisi dan kebiasaan keluarga pasangan kita. Namun, itu menjadi sulit apabila kita kurang bisa menahan ego diri kita sendiri untuk dengan sabar belajar, memahami dan membiasakan diri, membaur dan menjadi bagian dari kebiasaan itu tanpa menghilangkan jati diri kita sendiri.

Banyak sekali yang harus disesuaikan pada tahun-tahun awal usia pernikahan, atau bahkan berdasarkan pengamatan pribadi, proses penyesuaian itu terus berjalan hingga usia pernikahan tidak lagi muda. Beberapa hal yang mungkin menjadi subjek utama dalam proses adaptasi bagi pasangan yang berbeda budaya (konteks general) :

Kebiasaan Keluarga

Kebiasaan setiap keluarga tentu berbeda-beda, tidak bisa diseragamkan meskipun suatu keluarga itu masih dalam satu daerah, satu suku, atau bahkan satu keluarga besar. Semua dipengaruhi oleh style yang telah diturunkan secara alamiah sejak jaman nenek moyang keluarga tersebut. Oleh karenanya, kebiasaan ini menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dirubah karena telah dijalankan secara berulang-ulang dalam waktu yang sangat lama.

Selera Makanan

Makanan tentu menjadi hal yang penting, perbedaan daerah sudah barang tentu menjadi penentu perbedaan selera makanan dan jenis masakan yang dihidangkan. Secara pribadi aku sangat merasakan hal ini, mengingat aku adalah orang Solo yang terbiasa dengan makanan dengan rasa khas manis, sedangakan pasangan adalah orang Padang tentu dengan makanan khasnya yang pedas dan bersantan. Sekali lagi menikah itu juga dengan keluarga pasangan. Diperlukan cara yang baik untuk menjelaskan kepada keluarga apabila dirasa kita kurang bisa menyantap masakan yang telah disediakan, apalagi jika kita memiliki penyakit yang dapat ditimbulkan dari masakan-masakan tertentu seperti pedas, kecut atau bersantan. Mintalah bantuan suami untuk membantu menjelaskan hal-hal tersebut agar tidak menyinggung perasaan. Namun, Alangkah lebih baik jika kita mau belajar menyukai masakan-masakan khas daerah pasangan kita, dan mau belajar untuk mengolah masakan tersebut untuk pasangan kita.

Aksen/Logat Bicara dan Bahasa

Perbedaan bahasa sudah tidak perlu dibahas lagi karena sudah sangat jelas duduk permasalahannya. Hal itu bisa dijembatani dengan menggunakan bahasa nasional kita. Namun terkadang, meski telah menggunakan bahasa nasional, justru logat bicara yang menjadi sedikit ganjalan. Ada daerah yang memang logat bicaranya selalu bernada tinggi seperti Medan atau kota-kota lain di Sumatera dan pulau lainnya sehingga seolah-olah kita merasa dibentak-bentak , sedangkan bagi Orang Jawa dan sekitar DIY yang dengan logat bicara yang lemah lembut terkadang hal semacam itu menyebabkan kesalah pahaman yang dapat memicu konflik. Bagaimana mengatasi hal ini, buatlah disclosure kepada diri sendiri untuk memahami dasar perbedaan budaya yang akan berimplikasi pada poin logat bicara ini dan selalu konsultasikan pada pasangan kita apabila ada sedikit ganjalan di hati.

Silsilah Keluarga

Memahami silsilah keluarga pasangan tentu menjadi hal yang sangat penting karena ini akan menentukan bagaimana kita bersikap dan panggilan apa yang harus kita berikan kepada yang bersangkutan karena hal itu merupakan bentuk cerminan penghormatan. Tidak lucu jika sedang dalam acara keluarga, kita salah sebut title kan :D.

Mungkin sedikit poin tersebut dapat mewakili dan mengatasi sedikit permasalahan akibat perbedaan budaya ini maka, kita harus bisa menahan ego diri kita sendiri untuk dengan sabar belajar, memahami dan membiasakan diri, membaur dan menjadi bagian dari kebiasaan, tradisi dan budaya pasangan kita tanpa harus menghilangkan jati diri kita sendiri. Semangat belajar 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: